Di bawah ini merupakan urutan yang benar mengenai struktur teks biografi, yaitu?
Di bawah ini merupakan urutan yang benar mengenai struktur teks biografi, yaitu orientasi, peristiwa/kejadian, reorientasi
Di bawah ini merupakan urutan yang benar mengenai struktur teks biografi, yaitu orientasi, peristiwa/kejadian, reorientasi
A.A. Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia, ia dikelompokkan ke dalam Sastrawan Angkatan 1950-1960. Cerpennya yang fenomenal, Robohnya Surau Kami, terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah, (1955). Kutipan teks tersebut merupakan bagian dari reaksi
Apa yang dimaksud dengan biografi riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain
Analisis kalimat yang benar di bawah ini adalah dia membaca buku termasuk kalimat aktif transitif karena predikatnya membutuhkan objek. ia menangis terseduh-seduh kalimat aktif intransitif karena predikatnya tidak membutuhkan objek
Catatanriwayat hidup yang ditulis oleh diri tokoh sendiri disebut autobiografi
Bacalah kutipan teks biografi tokoh berikut! “Sejak tahun 2005, saya mulai melamar untuk menjadi ilustrator penerbit dunia. Caranya, saya memasang lamaran pekerjaan untuk menjadi ilustrator di berbagai web, dengan dilengkapi ilustrasi terbaik karya saya. Tapi, lama sekali enggak dapat order. Paling hanya order membuat komik tanpa imbalan. Meski begitu, tetap saya kerjakan, sambil mengasah kemampuan menggambar,” kata Ardian. Hal yang patut diteladani dari tokoh tersebut adalah pantang menyerah
Bacalah kutipan biografi tokoh berikut! B.J. Habibie adalah salah satu tokoh panutan dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang di Indonesia. Beliau adalah Presiden ketiga Republik Indonesia. Nama dan gelar lengkapnya Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Beliau dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA.Tuti Marini Puspowardojo. Dari kutipan tersebut, siapakah Tokoh yang dibahas b.j. habibie
Bacalah hikayat di bawah ini!(1)Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. (2)Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. (3)Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. (4)Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. (5)Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. (6)Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan.Pertanyaan yang jawabannya ada pada kutipan hikayat di atas adalah siapa raja negeri kobat syariah?
Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata oleh si bungkuk air itu dalam.Sumber teks: http://abdsyawal.blogspot.co.id/Kata yang digarisbawahi pada penggalan hikayat di atas menggunakan majas antonomasia
Adalahsebuah kolam yang amat elok. Di tepi kolam itu adalah dua ekor burung diam. Kedua burung itupun bersahabat dengan seekor kura-kura. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu datanglah kemarau. Maka air kolam itu keringlah.maka berkatalah burung itu kepada sahabatnya kura-kura itu.”Hai sahabatku. Apakah hal kami sekarang karena air kolam ini telah keringlah. Baikla kami berpindah kepada kolam yang lain supaya dapat kami mencari makan di sana. Tetapi susah kami meninggalkan tuan hamba di sini. Sebab itu biarlah kami bawa tuan hamba dan kami lepaskan kepada tempat berair supaya senang hati kami. Hendakpun kami menerbangkan tuan hamba tiada boleh karena kulit tuan hamba itu terlalu keras, tiada dapat kami pagut. Akan tetapi adalah suatu bicara kami, kami bawa suatu kayu tuan hamba gigitlah pada sama tengah kayu itu. Maka kami terbangkan seorang suatu penjuru. Tetapi jangan tuan hamba bukakan mulut dari pada kayu itu. Maka sahut kura-kura,”Baiklah, mana kata tuan hamba hemba turutlah.” Maka dibawalah oleh burung itu sepotong kayu, maka digigitlah oleh kura-kura itu maka oleh burung itu diterbangkanlah seorang suatu penjuru. Setelah sampai burung itu terbang ke atas kampung orang maka heranlah segala orang melihat hal itu, kura-kura terbang di tengah-tengah dan dua ekor burung pada kiri kanannya. Maka sekalian orang itu pun bersoraklah serta menepuk-nepuk tangannya. Apabila didengar kura-kura akan bunyi orang riuh rendah, maka katanya kura-kura, “Apa sebabnya maka orang itu semuanya bersorak” Demi dibukanya mulutnya, maka jatuhlah ia ke bumi lalu mati. (Penjedar Sastra, Dr.C. Hooykaas)Karakteristik sastra Melayu Klasik yang paling dominan dalam hikayat di atas adalah tema